Juni 22, 2011

Teknik Dasar Panjat Tebing



Picture From www.thebestt.com

Orientasi medan tebing telah selesai dari kemarin, peralatan telah siap digunakan untuk di pasang, selanjutnya adalah mulai melaksanakan pemanjatan hingga finish. Jika medan terlalu panjang, kita akan bermalam di dinding tebing dan menikmati sunrise esok pagi. Untuk menyelesaikan dinding tebing ini kita harus memilih beberapa tehnik pemanjatan, berdasarkan “ormed”, Dinding tebing kita kali ini memiliki dinding dengan beberapa pola, pada langkah awal, permukaan cukup rata, hanya terdapat retakan vertical dengan lebar beberapa centimeter saja.

setelah pitch pertama tidak ada satupun point yang bisa kita gunakan, kita harus berpindah secara horisontal beberapa meter ke sisi kanan dan melanjutkan pemanjatan vertical melalui chimney panjang itu. Lokasi belayer ke empat direncanakan pada awal dinding selanjutnya, pada dinding yang tidak terlalu curam, yang langsung mengarah pada over hang. Jika kita berhasil kita dapat langsung mencapai top. Sekarang kita tentukan tehnik pemanjatan manakah yang sesuai. Berikut gambaran medan kasusnya...





Tehnik pemanjatan dapat digunakan untuk menyelesaikan seluruh medan tebing tersebut, antara lain:

a.   Face Climbing

Yaitu pemanjatan pada permukaan tebing yang memanfaatkan tonjolan batu (point) atau rongga yang memadai yang digunakan sebagai pijakan kaki, pegangan tangan maupun penjaga keseimbangan tubuh.


b.   Friction / Slab Climbing


Teknik ini semata-mata hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu. Ini dilakukan pada permukaan tebing yang tidak terlalu vertical, kekasaran permukaan cukup untuk menghasilkan gaya gesekan. Gaya gesekan terbesar diperoleh dengan membebani bidang gesek dengan bidang normal sebesar mungkin. Sol sepatu yang baik dan pembebanan maksimal di
atas kaki akan memberikan gaya gesek yang baik, sehingga pemanjatan dapat dilakukan dengan lebih mudah.


c.   Fissure Climbing

Teknik pemanjatan dengan fissure climbing ini lebih memanfaatkan celah yang dipergunakan oleh anggota badan
untuk melakukan panjatan.



Dengan cara demikian dan beberapa pengembangan dari fissure climbing, dikenal teknik-teknik dengan tehnik sebagai berikut ;

a.   Jamming

teknik memanjat dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu besar. Jari-jari tangan, kaki, ataupun bagian-bagian tangan hingga bahu pemanjat dapat dimanfaatkan sebagai tehnik untuk memanjat dengan cara memanfaatkan crack/retakan pada tebing untuk melakukan pemanjatan. Peralatan yang digunakan secara mayoritas adalah pengaman sisip.


b.   Chimneying

teknik memanjat celah vertical yang cukup lebar pada tebing (chimney). Badan masuk di antara celah, dengan punggung menempel dan mendorong di salah satu sisi tebing. Sebelah kaki menempel pada sisi tebing depan, dan sebelah lagi menempel ke tebing yang berrada dibelakang pemanjat. Kedua tangan diletakkan menempel pada tebing. Kedua tangan membantu mendorong ke atas bersamaan dengan kedua kaki yang mendorong dan menahan berat badan.

c.   Bridging

teknik memanjat pada celah vertical yang cukup besar (gullies). Tehnik ini menggunakan kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada kedua permukaan tebing. Posisi badan mengangkang, kaki sebagai tumpuan dibantu oleh tangan yang juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan.


d.   Lay back

teknik memanjat pada celah vertical dengan menggunakan kekuatan tangan dan kaki. Pada teknik ini jari tangan mengait tepi celah tersebut dengan posisi badan membeban ke belakang dan menempel kesisi tebing, untuk memperkuat pegangan pemanjatnya. kedua kaki berpijak dan mendorong pada tepi celah yang berlawanan untuk menghasilkan daya angkat.

e.   Hand traverse
 
Teknik memanjat pada tebing dengan gerak menyamping (horizontal). Hal ini dilakukan bila pegangan yang ideal sangat minim dan untuk memanjat vertical sudah tidak memungkinkan lagi. Teknik ini sangat rawan, dan banyak memakan tenaga karena seluruh berat badan tertumpu pada tangan, sedapat mungkin pegangan tangan dibantu dengan pijakan kaki (ujung kaki) agar berat badan dapat terbagi lebih rata.

f.   Mantelself

Teknik memanjat tonjolan-tonjolan (teras-teras kecil) yang letaknya agak tinggi, namun cukup besar untuk diandalkan sebagai tempat berdiri selanjutnya. Kedua tangan digunakan untuk menarik berat badan, dibantu dengan pergerakan kaki. Bila tonjolan-tonjolan tersebut setinggi paha atau dada maka posisi tangan berubah dari menarik menjadi menekan untuk mengangkat berat badan yang dibantu dengan dorongan kaki.

strategi sangat diperlukan dalam setiap pemanjatan tebing, sensitif membaca keadaan, baik kemampuan diri maupun keadaan medan yang ada dengan keketerbatasan-keterbatasan yang mungkin timbul  dan selalu dapat mengambil keputusan untuk memnfaatkan kemampuan diri maupun alat semaksimal mungkin, me-manage semua sumber daya sebaik mungkin untuk dapat meraih tujuan pemanjatannya.


Pembagian pemanjatan tebing Berdasarkan Pemakaian Alat:

a. Free Climbing
Sesuai dengan namanya, pada free climbing alat pengaman yang paling baik adalah diri sendiri. Namun keselamatan diri dapat ditingkatkan dengan adanya keterampilan yang diperoleh dari latihan yang baik dan mengikuti prosedur yang tepat. Pada free climbing, peralatan berfungsi hanya sebagai pengaman bila jatuh. Dalam pelaksanaanya ia bergerak sambil memasang, jadi walaupun tanpa alat-alat tersebut ia masih mampu bergerak atau melanjutkan pendakian. Dalam pendakian tipe ini seorang pendaki diamankan oleh belayer.

b. Free Soloing
Climbing
Merupakan bagian dari free climbing, tetapi si pendaki benar-benar melakukan dengan segala resiko yang siap dihadapinya sendiri. Dalam pergerakannya ia tidak memerlukan peralatan pengaman. Untuk melakukan free soloing climbing, seorang pendaki harus benar-benar mengetahui segala bentuk rintangan dan keputusan untuk pergerakan pada rute yang dilalui. Bahkan kadang-kadang ia harus menghapalkan dahulu segala gerakan, baik itu tumpuan ataupun pegangan, sehingga biasanya orang akan melakukan free soloing climbing bila ia sudah pernah mendaki pada lintasan yang sama. Resiko yang dihadapi pendaki tipe ini sangat fatal sekali, sehingga hanya orang yang mampu dan benar-benar professional yang akan melakukannya.

Atrificial Climbing
Pemanjatan tebing dengan bantuan peralatan tambahan, seperti piton, bolt, dll. Peralatan tersebut harus digunakan karena dalam pendakian sering sekali dihadapi medan yang kurang atau tidak sama sekali memberikan tumpuan atau peluang gerak yang memadai.